ManOfWheels.com – Mengawali debutnya di MotoGP, Fermin Aldeguer memulai perjalanan barunya di musim 2025 ini. Dengan pertama kalinya dia turun di kelas utama, ia langsung menyadari kalau tuntutan di ajang MotoGP itu jauh lebih gede dibanding Moto2. Kerja keras yang dibarengi persiapan yang matang adalah kunci utama agar bisa bersaing di barisan terdepan.
Aldeguer sendiri tetap menjaga dirinya untuk tetap tenang dengan terus beradaptasi dengan motor Ducati yang ditungganginya. Sistem elektronik yang lebih rumit dan kecepatan lebih kencang, tentu pembalap asal Spanyol ini harus memahami dan mempelajarinya lagi dengan tepat. Dia pun juga optimis dengan targetnya menjadi “Rookie of the Year” dan konsisten berada di 10 besar.
Fermin Aldeguer: Langkah Awal di MotoGP dengan Target Menjadi Rookie Terbaik

Di setiap harinya, Fermin Aldeguer selalu meluangkan waktunya buat nonton berjam-jam rekaman balapan musim kemarin untuk mencari bagian yang harus direvisi. Dengan dasar yang kuat, ia percaya kalau bisa menemukan kelemahan yang kudu ditingkatkan lagi.
Kunci utamanya di musim debutnya ini bukan langsung menargetkan untuk naik podium, melainkan bisa bersaing di 10 atau 5 besar. Kecepatan, fisik, dan mental selama balapan itu telah disadarinya kalau hal tersebut sangatlah penting agar bisa terus berkembang secara bertahap.
Tapi memang karena minimnya pengalaman di MotoGP itu membuatnya cukup kesulitan, terlebih soal elektronik motornya yang jauh lebih kompleks dibanding Moto2. Sebelumnya Fermin pernah pakai sebuah referensi, tapi itu dirasa kurang tepat dan ia kembali berusaha adaptasi secepatnya. Di beberapa sirkuit yang sesuai dengan gaya balapnya lumayan membantu dirinya, meski lebih banyak tantangan lain yang kudu dia hadapi.
Kebanyakan dari fitur elektronik yang tersedia di motornya, Aldeguer masih belum mahir memanfaatkannya. Dia lebih milih untuk memakai bagian-bagian yang simpel alias mudah dipahami, ketimbang bingung yang dapat mempengaruhi performanya di awal musimnya. Tapi sekarang ia merasa progresnya dirasa sudah cukup baik, ia terus belajar, dengan melakukan kesalahan, namun itu adalah bagian dari perjalanan.
Dengan kesalahan, itu akan mengingatkannya untuk bagaimana mengoptimalkan setiap penyetelan motor agar sesuai dengan gayanya. Setiap pelajaran yang ia terima sangatlah berharga… Sampai sekarang, pembalap bernomor #54 itu tidak ada keluhan terhadap Ducati GP24 yang ia pakai. Cuma memang dia kudu memastikan dirinya bisa tetap tenang dan tidak buru-buru ambil keputusan. Bersaing dengan rival sesama rookie lain seperti Ai Ogura di Aprilia dan Somkiat Chantra di Honda, posisinya di tim Ducati dengan motor paling kompetitif itu lumayan membantu.
