ManOfWheels.com – Pecco Bagnaia terlihat redup karena rekan setimnya yaitu Marc Marquez menjadi sorotan gemilang di tim pabrikan Ducati. Gimana tidak, pembalap asal Spanyol itu berhasil mendominasi dengan memenangkan 4 balapan di seri pembuka musim ini, lalu diprediksi bakal memborong piala lagi di COTA, Texas. Bahkan yang mengejutkan, Pecco masih tertinggal jauh dibanding Alex Marquez yang pakai motor lama.
Karena hal yang kurang sesuai dengan ekspektasinya itu bikin Pecco memikirkan cara dan menyusun strategi anyar agar performanya bisa lebih baik. Dia putuskan untuk kembali memakai motor yang speknya mirip seperti Desmosedici GP24 yang sudah sangat familiar untuknya dan berharap bisa lebih nyaman di trek.
Pecco Bagnaia Memudar Akibat Kejayaan Marc Marquez di Tim Pabrikan Ducati

Neil Hodgson yakni seorang pengamat MotoGP melihat kalau memang Bagnaia kini sedang kesulitan terhadap kontrol bagian depan motor yang ditungganginya. Itu sangatlah penting karena dengan merasakan grip dan stabilitas dapat meningkatkan rasa percaya diri di lintasan. Ditambah lagi dengan hadirnya Marc Marquez bikin tekanan besar terhadap mental Bagnaia.
Ia (Hodgson) pun juga mengatakan jika seorang pembalap mulai tidak percaya diri, mereka biasanya mengambil jalan dengan berusaha lebih keras. Tapi dengan itu biasanya malah bikin motornya jadi tidak stabil, bikin catatan waktu yang lebih lambat, serta performa yang kian menurun. Tapi Hodgson percaya kalau sang juara dunia 3 kali itu bisa mencari solusi terbaik dan punya banyak pengalaman dalam menganalisa situasi.
Di musim kemarin saja, meski dia mengang di 11 balapan utama, Pecco Bagnaia gagal dalam mempertahankan gelar juara dunianya dan harus rela direbut oleh Jorge Martin. Menurut Michael Laverty itu juga menjadi bayang-bayang Pecco sampai sekarang, dan saat di musim baru ini harus berhadapan dengan Marquez yang tampil gemilang.
Bagnaia kini terpaksa untuk menunggu balapan yang menurutnya lebih menguntungkan, yakni di seri Eropa untuk mencoba membalikkan keadaan. Tapi tentu dengan semakin ketinggalannya, seperti raihan podium sampai poin klasemen itu membuat tekanannya makin meningkat…
