ManOfWheels.com – Pada 2006 Casey Stoner menjalani debutnya di MotoGP bersama tim LCR Honda milik Lucio Cecchinello. Meski saat itu kemampuannya bisa dibilang masih ‘mentah’ namun rider asal Australia itu memiliki bakat luar biasa yang tak terbantahkan, yang pada akhirnya menempatkan namanya di antara para pebalap terhebat sepanjang masa seperti Marc Marquez dan Valentino Rossi.
Cecchinello menjelaskan, “Tentu saja dia talenta yang luar biasa, sebuah fenomena. Kami sudah sering mengatakannya dan akan mengulanginya lagi bahwa dalam sejarah balap motor ada banyak juara dunia, masing-masing dengan karakteristiknya sendiri. Stoner adalah salah satu pembalap paling berbakat dengan bakat alami yang lebih besar daripada rider lain, tanpa mengurangi sedikit pun rasa respect terhadap Marc Marquez atau Valentino Rossi.”
Bos Tim LCR : Unik! Casey Stoner Mempelajari Salah Satu Tikungan Tersulit MotoGP dengan Bermain PlayStation

Lucio Cecchinello menambahkan, “Stoner punya bakat alami untuk bisa langsung melaju kencang di atas motor apapun dan sirkuit mana pun. Dia juga mampu menafsirkan tikungan dan menghafalnya dengan cepat, serta memacu motor hingga batas maksimal. Semua itu adalah sesuatu yang sudah menjadi naluri dirinya.”
Salah satu contohnya adalah ketika Casey Stoner beraksi untuk pertama kalinya di sirkuit Laguna Seca pada 2006. Sebelumnya, dia belum pernah balapan di sirkuit yang terletak di California itu sehingga dia belum memiliki pengetahuan dan data untuk melibas trek yang menantang tersebut terutama tikungan ‘Corkscrew’ yang ikonik. Disinilah Stoner memperlihatkan kemampuan luar biasanya dan dia langsung tampil mengesankan sejak awal.
Alih-alih mengambil pendekatan konvensional dengan mempelajari layout sirkuit dengan berjalan di lintasan atau melintasinya dengan mengendarai skuter, Stoner justru memilih untuk mempelajari sirkuit secara virtual yakni melalui permainan PlayStation. Meskipun menggunakan pendekatan yang tidak lazim, rider yang saat ini berusia 37 tahun itu bisa mengimbangi kecepatan rival-rivalnya sejak awal. Pada sesi FP1, dia berada tepat di belakang Nicky Hayden dan Colin Edwards dimana kedua pembalap tuan rumah tersebut sangat berpengalaman di sirkuit tersebut.
Tikungan ‘Corkscrew’ di Laguna Seca yang Dikenal Sulit…
Cecchinello menjelaskan, “Saya ingat ketika balapan di Laguna Seca pada 2006, trek yang sulit sekaligus penting di MotoGP dengan tikungan ‘Corkscrew’ yang terkenal. Dia belum pernah melibas trek itu, kami sarankan dia berkeliling mengitari trek dengan skuter tapi dia tidak mau. Carmelo Ezpeleta juga mengusulkan kepadanya untuk melihatnya dengan safety car, dan dia menolaknya karena dia sudah melihatnya di PlayStation. Pada akhirnya, sesi FP1 rampung dengan Nicky Hayden, Colin Edwards, dan Casey Stoner masuk 3 besar diikuti pembalap lain di belakang mereka. Itu menunjukkan seberapa besar bakatnya.”
Namun sayangnya, Stoner crash di lap ke-14 setelah start dari posisi ke-7 di grid. Meski begitu performa kuatnya cukup menarik perhatian di paddock. Di akhir musim 2006, Ducati melihat potensi besarnya dan kemudian merekrutnya. Stoner menandatangani kontrak dengan pabrikan asal Italia itu untuk 2007. Dengan Desmosedici GP7 yang tangguh, dia mendominasi klasemen dengan memenangkan 10 balapan dan 14 kali naik podium dalam 18 seri. Stoner mempersembahkan juara dunia pertama untuk Ducati.
Stoner tetap bersama Ducati selama 3 musim berikutnya, tetapi tak pernah mampu mengulangi kesuksesan yang sama karena gejala penyakitnya mulai terasa. Pada 2011, dia pindah ke Honda dan langsung kembali ke performa terbaiknya dengan memenangkan juara dunia sekali lagi di tahun debutnya bersama tim tersebut.
Namun, hanya setahun kemudian, Stoner mengejutkan dunia balap dengan mengumumkan pengunduran dirinya di akhir musim 2012. Dia meninggalkan olahraga balap motor di puncak performanya ketika masih di usia 27 tahun.
